Rabu, 21 November 2007

DOKTER JUGA MANUSIA, BISA SAKIT JUGA


Tiga hari yang lalu saya sakit dengan gejala demam, sakit bila buang air kecil. Selama ini Alhamdulillah saya jarang sekali sakit. Tapi kemarin, wah saya bisa merasakan bagaimana jadi PASIEN. Sebenarnya saya sudah tau penyakit saya dari tanda dan gejalanya merupakan INFEKSI SALURAN KEMIH. Ini salah saya juga : kurang minum dan suka menahan kencing kalau kena macet di jalan, dan selama praktek.


Saya pergi ke teman sejawat ahli penyakit dalam di tempat saya praktek, karena saya tidak mau sok tau mengobati diri sendiri. Ternyata hasil lab mendukung infeksi saluran kemih. Saya patuhi obat yang dia resepkan.


Alhamdulillah, saya sekarang sudah segar, berangsur-angsur pulih.


Pelajaran yang saya tarik dari saya sakit: menasihati orang lain (pasien) lebih mudah dari pada menasihati diri sendiri. Saya kapok untuk menahan kencing dan kurang minum. Padahal itu nasihat yang sering dokter ucapkan bila ada pasien dengan infeksi saluran kemih. Ya Allah, ampuni aku atas ketakaburan ini...


Rabu, 14 November 2007

DI MEJA ADA SATU STATUS, TETAPI YANG LAIN NIMBRUNG MAU GRATISAN


Sering menjumpai hal ini di praktek anda ? Saya sering. Saya bukannya tidak mau beramal, tapi coba renungkan betapa pentingnya catatan medis bagi dokter dan pasien ybs sendiri. Sekarang jamannya sudah berbeda. Segala sesuatu harus ada data, karena semua ada sanksi hukum dibelakang hari jika dokter tidak memiliki catatan medis. Jika terjadi sesuatu hal terhadap pasien yang kita obati, tetapi tidak ada back up data, maka tetap saja dokter yang salah.

Pasien mau cepatnya saja? Ya, alasannya malas antri di meja pendaftaran. Sekalian dok, ini ibu saya dan kakak saya mau berobat! Wah ini bukan malas antri saja, tapi mau “berhemat” biaya dokter dalam hati saya. Coba kita renungkan bersama. Siapa lagi yang dapat menghargai profesi dokter kalau bukan dokter itu sendiri. Saya tidak keberatan mengratiskan pasien jika pasien tersebut pantas dibantu, misalnya pasien tidak mampu. Kalo kita lihat pasien dengan jam tangan “bermerek”, baju klimis, wangi parfum, beralas kaki, apa dia pantas berbuat satu pasien 3 orang berobat?

Saya sampaikan ke keluarga tersebut untuk membuat status berobat dahulu. Setelah itu saya layani. Saya jelaskan pentingnya status sebagai dokumen medis, dan memiliki kekuatan hukum. Ada yang menurut anjuran saya, ada pula yang berkilah, “lain kali saja saya berobat, sekarang 1 orang saja dulu”. BAGAIMANA PENDAPAT ANDA?

PRAKTEK KULIT DAN KELAMIN LEBIH ENAK DARI PADA PRAKTEK KOSMETIK?

Saya sering mengalami betapa stresnya melayani pasien yang sudah cantik tapi ingin lebih cantik lagi. Lebih nyaman rasanya mengobati orang yang muka/badannya “babak belur” karena sakit kulit. Dia pasrah kepada saya agar disembuhkan. Perbaikan/penyembuhan jelas terlihat dari hari ke hari. Biasanya mereka kurang “cerewet” dibandingkan pasien kosmetik, patuh, tidak suka membantah, melakukan anjuran minum obat dan pengolesan salep sesuai yang tertulis di resep.

Banyak pasien yang tidak dijumpai kelainan-kelainan kulit di mukanya tetapi ingin lebih putih, lebih bersinar, lebih bersemu merah, tapi tidak ingin seperti udang rebus. Nah! Justru itu. Banyak yang tidak ada kelainan apapun tapi ingin lebih putih, lebih cerah, agak bersemu merah ini yang membuat saya stress. Mereka sudah cantik, normal tapi ingin lebih cantik lagi.

Krim yang diberikan untuk perawatan kulit bukannya bebas dari masalah. Ada saja risiko iritasi maupun alergi. Jika pasieng kurang rajin mematuhi anjuran dokter karena malas memakai tabir surya di pagi dan siang hari, boleh jadi sinar matahari membuat kulit yang sedang “dirawat” menjadi makin sensitif. Efek samping “udang rebus dan flek hitam malah terjadi. Wah… gawat kalau sudah begini. Maunya makin cantik malah makin buruk. Pasien-pasien kosmetik sering berharap terlalu banyak dari perawatan ini. Sebagai dokter kita harus menjelaskan sedetail mungkin isi, cara pakai, pantangan, bahkan kemungkinan efek samping krim yang saya berikan. Nah kalo pasien sudah setuju, jangan lupa melapor jika ada efek samping. Tidak ada efek samping pun pasien tetap wajib kontrol, karena obat yang dokter berikan perlu penyesuaian dosis, tidak dapat dipakai sekehandak/selama pasien mau. Karena sering juga yang tidak mau kontrol, maunya beli obatnya saja.

Jumat, 09 November 2007

PASIEN SABAR, DOKTER TENANG


Saya bertemu dengan 2 pasien yang sabar yang membuat saya banyak belajar dari keduanya. Yang pertama seorang anak laki-laki umur 7 tahun, dengan mata ikan di telapak kaki kanannya. Yang kedua seorang perempuan remaja umur 18 tahun dengan sumbatan kelenjar minyak di kelopak mata kanan bawah. Keduanya jelas jauh lebih muda dari umur saya (38 tahun).


Keduanya dilakukan tindakan operasi kecil + bius lokal untuk menghilangkan. "tumor jinak" tersebut. Keduanya mengaku belum pernah dioperasi, baik operasi besar maupun operasi kecil.
Yang membuat saya tercengang, keduanya "berzikir" sewaktu saya suntik dan sepanjang saya mengangkat tumor tersebut (pada operasi kecil ini pasien hanya dibius lokal, jadi tetap sadar). Saya tahu waktu jarum menembus kulit membuat rasa nyeri, tetapi bukan teriakan "aduh" sayang saya dengar, tetapi "Allahu Akbar".


Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang lemah, suka mengeluh. Hanya dengan sabar dan tawakal saja kita menjadi kuat. Usia bukan patokan kedewasaan seseorang. Kita juga dapat belajar dari orang yang usianya jauh lebih muda dari kita. Kalau bagus, jangan malu mencontoh dari balita sekali pun. Sering kita melihat orang dengan usia yang sudah lanjut, tapi tidak sabaran, banyak mengeluh, dan tidak pernah bersyukur.


Penyakit mata ikan, sumbatan minyak di kelopak mata, rasa sakit waktu disuntik, hanya sebagian kecil dari ujian hidup. Jadi saya juga harus banyak bersabar bila pasien cerewet, tidak mau dinasehati, tidak terima penjelasan atas penyakitnya. ITU CUMA SEBAGIAN UJIAN KESABARAN.

Senin, 05 November 2007

PASIEN SULIT DIBERI NASEHAT


Tadi malam saya praktek menjumpai pasien dengan reaksi alergi akibat gigitan serangga yang ringan. Dalam bahasa kedokteran dinamakan INSECT BITE HIPERSENSITIVITY. Sesuai standar pelayanan medis saya memberi nasehat sesuai hasil anamnesis agar dia berupaya sedapat mungkin menghindari gigitan nyamuk, serangga, kutu, dengan memberi nasehat agar kamar tidurnya diberi obat nyamuk sebelum tidur, memakai lotion penangkal nyamuk di kulitnya yang tidak tertutup baju, jangan memelihara hewan berbulu yang mungkin berkutu, dan tidak tidur dengan kasur di bawah (memakai tempat tidur yang agak tinggi).

Apa rekasi pasien ? Pertama ia menjawab, "Dokter tidak salah diagnosis?". Kamar saya bebas nyamuk kok !". Belum apa-apa sudah protes dengan nada agak ketus.


Saya pernah beberapa kali menghadapi pasien seperti ini, namun saya tetap berusaha tenang. Biasanya pasien PENYAKIT KELAMIN yang sering memberikan reaksi semacam ini. Kali ini pasien penyakit kulit yang protes. Entah mengapa dia tetap rewel dengan meminta saya memberikn obat terbaik ."Yang Bagus obatnya ya dok, biar saya cepat sembuh dan tidak usah kembali lagi". Dalam hatiku kebetulan kalau dia tidak kembali lagi. Cape deh... kata anak sekarang.



Jadi sering kita temukan orang yang tidak siap menerima nasehat atau kritik dari orang lain. Sikap seperti ini akan merugikan pasien yang bersangkutan. Biar pun dia pergi berobat kemana saja (belanja dokter) dari dokter umum, spesialis sampai profesor, tapi jika dia tidak mau menerima nasehat, penyakitnya akan sering kambuh. Merugilah dia.

Sabtu, 03 November 2007

GATAL-GATAL DAN PANTANG MAKANAN


Pasien terbanyak dalam praktek kulit sehari-hari adalah dermatitis. Dermatitis jika dibahasakan untuk orang awam katakan saja peradangan kulit dengan penyebab dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui. Eksim bisa basah (madians), dapat pula kering.

Yang menarik dari pasien-pasien dermatitis ialah mereka sudah melakukan pantang makanan laut (sea food), telur, dan ikan air tawar atas inisiatif sendiri, bukan berdasarkan ilmiah atau petunjuk dokter. Toh mereka mengeluh tetap gatal.

Saya jelaskan kepada mereka bahwa sebenarnya tidak semua eksim berhubungan dengan makanan. Makanan yang menyebabkan eksim lebih sering terjadi pada balita karena sistim kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna (peran IgA saluran cerna). Pada dewasa bisa juga terjadi dengan kemungkinan yang lebih kecil. Kalau penasaran, saya menganjurkan uji alergi pada pasien tersebut.

Jadi jangan mengkambinghitamkan makanan sebagai penyebab eksim. Salah-salah...bisa kurang gizi tuh...!
Berdasarkan pengalaman tersebut, jika kasus eksim tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan saya langsung mngatakan kepada pasien agar tidak pantang makanan, laut, telur, dsb. sebelum dia bertanya atau tidak bertanya.

Jumat, 02 November 2007

KISAH DARI RUANG PRAKTEk


Pasien penyakit kelamin merupakan 10-20% kasus dari pasien praktek saya sehari-hari. Saya ingat pesan dua orang guru besar saya di FKUI waktu mengambil spesialisasi ini yang berpesan agar jangan pilih-pilih pasien. Jangan menolak pasien penyakit kelamin, dan hanya mau praktek kosmetik saja. Biar bagaimana pun mereka adalah manusia yang perlu mendapat pertolongan, pengobatan yang profesional dari spesialisasi ini.

Pada kenyataan sehari-hari saat ini setelah saya lulus dan berpraktek saya melihat sendiri beberapa teman sejawat spesialis kulit dan kelamin yang saya lebih senang praktek kosmetik saja. Mereka bahkan menolak pasien penyakit kelamin yang datang padanya, dengan alasan jijik, ingin menghukum perbuatan mereka yang melakukan seksual bebas, kasihan kepada istri/suaminya yang akhirnya tertular penyakit kelamin. Ini jelas bukan tidak seorang dokter yang profesional. Kita juga bukan orang yang lebih “mulia” dibandingkan pasien-pasien tersebut. Dari segi komersil saya melihat mereka juga mempunyai kesempatan dapat menarik jasa dari tindakan yang lebih banyak dari tindakan kosmetik. Jadi alasannya bukan hanya enggan saja tapi ada nilai komersialisasi didalamnya.

Seharusnya sebagai dokter yang baik selain mengobati penyakit kelamin, kita juga menggali kemungkinan penularan penyakit ini ke patner seksnya (istri/suami atau patner lain diluar pernikahannya). Sekaligus mengobati patnernya, menasehatinya agar tidak mengulangi hubungan seksual beresiko tinggi (seksual bebas). Kalau pasien masih senang “jajan’ dan belum mau tobat juga, ya… motivasi pemakaian kondom diingatkan dalam hal ini (meskipun saya bukan termasuk dokter yang senang kalau menyarankan ini, saya tidak pernah percaya kondom dapat melindungi penyakit menular seksual 100%).