Kamis, 28 Februari 2008

MENGOBATI DIRI SENDIRI.... HATI-HATI!


Kemarin salah seorang pasien mengeluhkan salep yang biasa ia oleskan jika eksimnya kambuh membuat bercah putih sekitar eksim. Parahnya, eksimnya juga sudah tidak "mempan" dengan salep tersebut. Dalam praktek sehari-hari, ini yang disebut gejala "takifilaksis" yaitu obat tidak lagi memberikan efek penyembuhan karena sudah kebal, tetapi yang timbul malah efek samping.


Salep yang dipakai pasien saya tanpa konsultasi ke dokter ialah sejenis STEROID. Steroid sering dipakai oleh dokter sebagai obat anti radang. Eksim termasuk dalam golongan penyakit kulit yang ditandai radang: merah, gatal, bengkak, panas. Salep steroid dapat meredakan radang, tetapi jika dipakai terus-menerus mengakibatkan eksim tersebut tidak mempan lagi, malah makin menipiskan kulit, membuat membuat pembuluh darah permukan kulit sektar eksim makin nyata seperti gambaran sarang laba-laba (spider naevy). Kalau sudah begini sulit diobati kecuali disinar laser.


Saran saya, patuhi anjuran dokter berapa lama obat boleh diminum/dioles, jangan berinisiatif sendiri tanpa kontrol ke dokter ybs lalu membeli lagi salep yang pernah ia resepkan karena berpikir toh itu juga obatnya, sama saja. Dari pada terjadi efek samping obat.


Bagaimana menuru anda?


Rabu, 27 Februari 2008

PENYALAHGUNAAN ASURANSI KESEHATAN

Tahukah anda penyalahgunaan asuransi kesehatan dalam hubungan dokter-pasien?



1. Menggunakan nama sendiri tetapi yang berobat adalah orang lain.



2. Mengganti diagnosis penyakit, karena diagnosis yang sebenarnya tidak akan ditanggung asuransi. Dalam praktek saya, penyakit kelamin tidak akan ditanggung asuransi. Seringkali pasien memaksa aga saya mengganti diagnosis. Saya katakan tidak mungkin, karena obat yang tertlis pun akan terlacak sebagai obat penyakit kelamin.



3. Meminta dokter menuliskan obat lain atas permintaan pasien yang tidak ada hubungannya dengan penyakit yang dideritanya. Misalnya dalam pengalaman saya sehari-hari, pasien minta salep pelembab untuk anaknya.



4.Meminta jumlah obat lebih banyak dari yang sebenarnya, dengan alasan mau pergi ke luar negeri/mlas kontrol.

Nah semoga kita bukan termasuk orang yang pernah melakukannya

Minggu, 24 Februari 2008

KASUS ALERGI TATO

Saya menemukan seorang anak laki-laki umur 6 tahun dengan alergi di kulit lengan kanan akibat tato non permanen. Seminggu sebelumnya ia diajak kedua orang tuanya berlibur ke Bali. Di Kuta ayah dan ibunya membuat tato. Anak tersebut minta dibuatkan tato juga, dan memilih sendiri gambar yang diinginkannya.
Saya heran juga kok anak ini bukan gambar yang lucu yang dia pilih, tetapi gambar SCORPIO. Wah bandel juga nih kecil-kecil. Meskipun disana disediakan gambar yang lucu-lucu untuk anak-anak, tetapi dia memilih gambar orang dewasa yang seram.
Saya beberapa kali menemukan kasus alergi terhadap zat warna tato. Alergi tidak hanya pada tato permanen, tetapi sering juga terjadi pada tato non permanen. Saya menyayangkan kedua orang tua anak ini kok mengajarkan tato ke anaknya. Lagi pula kulit balita cenderung masih halus, sensitif. Jika di beri tato meski nono permanen risiko alergi dapat terjadi.
Nah saya menghimbau, jangan mencoba-coba membuat tato baik permanen maupun non permanen, karena risiko alergi dan keindahan tidak harus dengan cara melukis tubuh.

Rabu, 20 Februari 2008

PASIEN EKSPAT VS PASIEN DALAM NEGERI

Kemarin saya mendapatkan pasien bule warganegara Romania yang sedang bertugas di Indonesia. Dia dapat berbahasa Indonesia sedikit-sedikit karena sudah 2 tahun di Jakarta. Mr. N. (dirahasiakan nama asli sesuai kode etik).
Mr. N seperti halnya pasien ekspat lain, amat kritis. Sebelum ke dokter sudah mencari informasi lewat internet. Jadi sering kali penjelasan saya dpotong olehnya karena dia sudah "pintar". Buat saya tidak masalah. Ini tantangan buat dokter-dokter kita. Hal yang sama terjadi saat saya menulis resep. Dengan detail ia bertanya bahan aktif, efek terapi, cara minum obat, dan efek samping yang mungkin terjadi. Kalau kita tulis 3 jenis obat, ya ketiganya harus diterangkan masing-masing.
Berbeda dengan pasien bangsa sendiri. Bayar dokter ya buat ditanya macam-macam. Cenderung kurang kritis. Kalau tidak setuju/tidak puas dengan keterangan dokter sering kali "berkelit" dengan alasan yang tidak ilmuah/logis.
Bagaimana menurut pandapat anda? Kapan bangsa kita menjadi pasien yang cerdas?